Jumat, 13 April 2012

DIPANGGIL UNTUK MELAYANI




Yoh. 13:1-20

             Ketika seseorang/kita membaca kisah Yesus membasuh kaki para murid-Nya, maka kita akan sepakat bahwa kisah ini merupakan suatu kisah yang memuat ajaran tentang kerendahan hati seorang pemimpin besar seperti Yesus.  Orang yang membaca cerita ini bisa membayangkan skenario yang terjadi pada saat itu.  Menurut skenario, yang menjadi penyebab Yesus membasuh kaki para murid-Nya adalah karena di antara mereka tidak ada yang mau melakukannya.  Penyebab lain yang mungkin muncul adalah karena di ruangan itu tidak ada seorang pelayan atau hamba atau budak yang bertugas untuk membersihkan kaki mereka semuanya. 

          Namun jika kita melihat dalam Injil yang lain, maka kita akan mendapatkan banyak gambaran tentang situasi dan kondisi pada malam itu.  Menurut Injil Lukas, digambarkan bahwa situasi di sekitar meja makan  itu terasa tegang dan kaku.  Penyebabnya adalah “Terjadilah pertengkaran di antara murid-murid Yesus, [tentang] siapakah yang dapat dianggap terbesar di antara mereka” (Luk. 22:24).

          Yesus sudah berusaha untuk menentramkan mereka dengan berkata, “Raja-raja bangsa-bangsa memerintah rakyat mereka dan orang-orang yang menjalankan kuasa atas mereka disebut pelindung-pelindung.  Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan” (Luk.22:27).  Akan tetapi, kelihatannya perkataan Yesus tidak digubris oleh mereka.  Sebab itu persaingan tentang kedudukan di antara murid-murid pun tidak mereda.  Maklumlah semuanya ini menyangkut gengsi.  Dan memang secara manusiawi, siapakah manusia yang mau dianggap sebagai yang lebih rendah, lebih kecil atau lebih bodoh?  Bukankah kalau kita mau jujur, tiap orang maunya dianggap sebagai orang yang lebih besar, lebih tinggi, lebih pandai dan lebih-lebih yang lainnya dari yang sebenarnya. 

          Contoh yang kongkrit, baik yang terjadi di jaman ini atau pun di masa-masa yang lampau adalah mengenai perebutan kursi di mana-mana.  Harga sebuah kursi tidak semahal sebuah ranjang, meja atau almari, betul?  Di mana-mana selalu ada kursi.  Di ruangan ini ada banyak kursi, di ruang tunggu ada kursi, di restoran ada kursi dan di stasiun bis juga ada kursi. 

          Akan tetapi, kursi bisa menjadi rebutan dan harganya bisa menjadi lebih mahal bahkan bisa lebih mahal dari mobil sekalipun.  Lembaran sejarah penuh dengan perang yang memperebutkan sebuah kursi.  Sebuah bangsa bisa pecah dan saling membunuh karena perebutan kursi.  Jadi,  ternyata kursi bukan hanya tempat duduk, melainkan juga kedudukan.  Di mana-mana orang senang memperebutkan kursi: di partai, di organisasi, di perusahaan bahkan di gereja.  Belum lama ini ada beberapa orang yang rela mengeluarkan uang bahkan sampai milyaran rupiah agar dapat mendudukan dirinya di kursi istana merdeka. 

Mengapa bisa terjadi perebutan kursi? Mungkin supaya dapat menguasai orang lain atau juga bisa karena gengsi jika tidak menjabat apapun juga, atau bisa karena ada kepentingan pribadi yang ingin dicapai dengan duduk sebagai orang tinggi.  Dan masih banyak lain lagi.      
         
Namun Yesus mengatakan hal yang sebaliknya, bahwa kita harus memiliki kerendahan hati dalam kehidupan ini, apalagi kita semua ini dipanggil sebagai hamba-hamba Kristus.  Meskipun demikian, tidak ada satu pun dari murid-murid-Nya yang mau terjun untuk mencuci kaki orang yang hadir dalam jamuan makan itu.  karena mungkin dalam pikiran mereka barangsiapa yang melakukan hal itu langsung akan dianggap sebagai murid yang paling rendah.  Dan memang tugas untuk membasuh kaki para tamu adalah tugas seorang pelayan atau budak yang tentunya lebih rendah dari orang lain atau tamu tersebut.

Akhirnya Yesus mengambil tindakan yang membuat murid-murid itu terkejut, kikuk dan malu.  Tanpa berkata sepatah kata apapun, tiba-tiba Yesus meninggalkan meja, dan melepaskan jubah-Nya, mengambil sehelai kain dan mengikatnya pada pinggang-Nya, lalu mengambil sebuah baskom, menuangkan air ke baskom itu, berjongkok di depan para murid, mencuci kaki mereka dan mengeringkannya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya. 

Inilah kerendahan hati yang sejati, yaitu penyangkalan diri (v.3-4).  Penyangkalan diri bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan.  Mengapa demikian?  Karena manusia secara alami membutuhkan pengakuan bukan penyangkalan.  Manusia secara alami lebih cenderung untuk meninggikan diri dan bukan menyangkali diri.  Itulah sebabnya menjadi rendah hati itu sulit sebab membutuhkan penyangkalan diri. 

Penyangkalan diri ini sudah Yesus buktikan melalui tindakan pembasuhan kaki kepada para murid-Nya.  Apakah sebabnya Yesus mencuci kaki para murid-Nya?  Yohanes 13:3-4 mencatat, “Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah.  Lalu bangunlah Yesus menanggalkan jubah-Nya dst . . .” 

Pertanyaan kita telah terjawab.  Apalagi kalau kita melihat naskah Yunaninya secara harafiah yang berbunyi: “karena mengetahui bahwa segala perkara diberikan kepada-Nya oleh Bapa ke dalam tangan-Nya, dan bahwa dari Allah ia berasal dan kepada Allah pergi, Ia berdiri dari santapan dan melepaskan jubah-Nya. . . ” dalam teks aslinya ayat 3 dan 4 merupakan suatu ayat yang berkesinambungan alias tidak ada titik, tapi pakai koma. 

Jadi, menurut Yohanes, Yesus meninggalkan meja dan membasuh kaki para murid karena Ia mengetahui bahwa segala kekuasaan diberikan Allah kepada-Nya dan karena Ia mengetahui bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah.  Dengan kata lain, karena Yesus mengetahui bahwa Ia mempunyai kekuasaan yang begitu besar dan kedudukan yang begitu tinggi, Ia tetap mau melayani murid-murid-Nya.

Inilah cara Yesus mempergunakan kekuasaan dan kedudukannya, yaitu tidak untuk menekan orang lain yang ada di bawahnya, melainkan untuk melayani kepentingan mereka. 

Inilah paradoks yang terjadi pada malam itu.  Ketika para murid merasa kedudukan mereka terlalu tinggi untuk menggantikan tugas seorang pelayan atau budak untuk membasuh kaki. Yesus yang justru memiliki kekuasaan dan kedudukan yang tinggi memberikan sebuah keteladanan bersedia melakukan tugas itu. 

Di satu sisi para murid waktu itu menggunakan kedudukannya untuk meninggikan diri masing-masing dan menekan sesama mereka, maka di sisi lain, Yesus menggunakan kekuasaan dan kedudukan-Nya yang tinggi untuk melayani bagi kepentingan orang lain. 

Inilah dilema yang seringkali kita lihat dalam kehidupan sehari-hari.  Orang yang rendah, kecil dan bodoh seringkali berpura-pura atau memberi kesan dirinya tinggi, besar dan pandai.  Padahal orang yang tinggi, besar dan pandai tidak merasa perlu lagi untuk melakukan hal yang seperti itu, sehingga ia mau merendahkan diri dan melayani orang-orang yang ada di bawahnya.  Menurut Yesus orang tinggi tidak perlu tahan harga diri, tidak perlu lagi pasang aksi dan tidak perlu gengsi, tapi mau melayani bukan untuk kepentingan diri pribadi.      

Sdr, perhatikan lingkungan sekitar kita yang penuh dengan merk-merk.  Semua merk berusaha menampilkan sesuatu yang bagus.  Misalnya hotel ada yang bernama hotel Nirwana, dan tidak akan ada Hotel Neraka.  Atau sebuah toko lampu akan diberi nama Terang Benderang, tidak akan ada nama toko lampu gelap gulita.  Koran bernama Sinar Harapan, tidak ada Putus Harapan.  Kita makan di restoran bernama Nikmat, bukan restoran Tidak Nikmat atau Pu Hao Tje. 

Memiliki merk nama yang bagus bukanlah hal yang salah.  Dan memang kita juga menyukai barang-barang atau tempat yang memiliki kesan baik dengan merk yang bagus.  Merk yang bagus bukanlah masalah.  Yang menjadi masalah adalah kalau dari luar bungkus dan merknya bagus, tetapi apa yang di dalamnya jelek.  Misalnya pemangakas rambut yang merk Pangkas Rapih, tapi hasil pangkasannya sembrono.  Atau penjahit bermerk Halus, namun jahitannya kasar. Contoh lain lagi adalah maskapai penerbangan yang bermoto nyaman dan aman, namun kenyataannya keberangkatannya selalu tertunda dan bagasi sering hilang. Dan masih banyak contoh yang lainnya. 

Akan tetapi, yang lebih menjadi soal adalah bila hidup dan diri kita tidak sesuai dengan merk yang kita pasang.  Kita mengaku sebagai orang Kristen atau pengikut Tuhan, tetapi gaya hidup kita berbeda jauh dari gaya hidup Kristus yang sederhana, damai dan mau berkorban.  Kita mengaku bahwa diri kita adalah hamba-hamba Kristus, namun seringkali kita enggan melakukan pelayanan yang dipercayakan Tuhan melalui gereja-Nya. Atau kita memasang merk dalam diri kita sebagai pelayan Tuhan, tetapi kita sering bersikap seperti tuan yang hanya mengharapkan dilayani dan bukan terlibat dalam pelayanan.  Merknya seringkali bagus, tapi isinya bagaimana?

  Belajar dari para murid, mereka gagal dalam memerankan bagian mereka.  Sehingga Yesus berkata kepada mereka, “Mengertikah kamu apa yang telah kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan” (v. 12-13).  Di sini seolah-olah Tuhan Yesus mau berkata kepada mereka, “Aku yang adalah seorang Guru yang harus dipercayai, dan Tuhan yang harus ditaati sanggup melayani sampai kepada hal yang terkecil, lalu mengapa kamu yang adalah murid dan hamba-Ku tidak mau melakukannya?

Pertanyaan yang sama Tuhan ajukan kepada sdr pada hari ini, Mengertikah kamu apa yang telah kuperbuat kepadamu? Yesus sudah melakukan segala hal yang terbaik buat sdr setiap waktu setiap harinya.  Bukan hanya itu, Ia telah memberikan Diri-Nya untuk menjadi tebusan bagi dosa dan kesalahan kita.  Jangan biar gengsi atau ketakutan membuat kita tidak mau mengambil bagian dalam pelayanan.  Ingatlah Tuhan mau melayani karena Dia mengasihi kita, jika kita mengasihi Dia, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tinggal diam dan hanya ingin dilayani.  Kalau kita sudah mengerti apa yang telah Ia perbuat bagi kita, apakah yang sudah kita lakukan bagi Dia? 

Sdr, kerendahan hati bukan hanya menuntut kita untuk menyangkal diri, namun kerendahan hati juga menuntut kita untuk dapat menerima keberadaan orang lain dan saling mengasihi antar sesama kita (v. 14-17).  

Hal ini bukan hal yang mudah untuk dapat dilakukan oleh para murid.  Di antara mereka memang sudah secara jelas dan gamblang terjadi persaingan yang ketat untuk menjadi yang terbaik.  Bahkan Yakobus dan Yohanes secara terang-terangan meminta bagian/kedudukan kepada Yesus  dalam kemuliaan-Nya. Dan tentu saja permintaan itu menimbulkan pertentangan dan persaingan yang makin tajam di antara mereka. 

Dan memang hal inilah yang menjadi titik rawan dari 12 murid Tuhan Yesus. Oleh sebab itu, dalam Yoh 17:20-23, Tuhan Yesus meminta sebanyak tiga kali kepada Bapa-Nya agar para murid dapat bersatu untuk dipakai sebagai alat menyebarkan Kerajaan Allah. Ini menunjukkan bahwa hal ini sangatlah penting. 

Akar pertikaian di antara murid-murid itu selalu sama, yaitu memperebutkan kedudukan dengan pola pikir bahwa kedudukan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan sendiri.  Akibat dari pola pikir inilah yang menyebabkan para murid sangat rawan untuk bertikai dan bercerai.  Karena itu Yesus prihatin akan hal ini, oleh sebab itu ia memberikan sebuah teladan yang hidup di hadapan mereka semua, yaitu dengan membasuh kaki mereka semua. 

Tindakan Yesus ini merupakan wujud dari kerendahan hati-Nya yang ditunjukkan dengan cara menerima semua dan mengasihi semua tanpa ada perbedaan di antara mereka.  Bahkan ketika Petrus meminta kepada Tuhan untuk membasuh bukan hanya kaki, tetapi tangan dan kepalanya, Yesus tidak mengubrisnya karena Ia ingin menunjukkan bahwa kasih dan penerimaan-Nya sama kepada semua murid-Nya. 

Yesus juga ingin menunjukkan kepada murid-murid-Nya bahwa kasih mereka kepada Tuhan itu harus aktif bukan pasif.  Kasih itu dapat dilihat dan dirasakan keberadaannya, bukan hanya omongan atau teori semata.  Kasih itu selalu mencari kebaikkan bagi orang lain dan tidak pernah menganggap ada pelayanan yang terlampau rendah untuk mencapai tujuan kasih itu. 

Yesus menginginkan hal seperti demikian dapat dilakukan oleh semua murid-Nya.  Oleh sebab itu, dalam ayat 16 dikatakan, “Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya, ataupun seorang utusan daripada Dia yang mengutusnya.”  Di sini Yesus ingin mengingatkan mereka, bahwa sebagai sesama pelayan Tuhan seharusnya mereka tidak berbantahan dan saling menelan satu dengan yang lainnya.  Karena mereka semua adalah hamba-hamba Kristus yang seharusnya saling menerima dan saling mengasihi untuk sama-sama bekerja dalam ladang Tuhan. 

Sdr, sebenarnya sebua pertikaian atau konflik adalah wajar dan merupakan bagian dari dinamika kehidupan berkelompok, entah itu kelompokm 12 orang, 12 ribu orang, bahkan 12 juta orang.  Apalagi jika pertikaian yang terjadi merupakan cetusan dari perbedaan pendapat, itu hal yang wajar.  Berbeda pendapat adalah tanda yang sehat, sebab keberagaman pendapat akan memperluas cakrawala pemikiran kita. 

Namun, pertikaian akan berubah menjadi sesuatu yang tidak sehat apabila terus menerus berlarut-larut, dan akhirnya menjurus kepada permusuhan yang dijiwai perasaan benci, iri dan ambisi mementingkan kepentingan diri sendiri.  Maka akibatnya cepat atau lambat akan timbul perpecahan, baik perpecahan yang terang-terangan atau perpecahan yang tersembunyi. 

Titik rawan para murid adalah titik rawan gereja-gereja Tuhan saat ini.  Kita sedang melayani Tuhan, malah bertengkar dan bertikai dengan sesama kita sendiri.  Energi kita habis terpakai untuk bertikai.  Bukan hanya energi, banyak waktu, tenaga dan pikiran kita terbuang sia-sia hanya untuk memuaskan ambisi dan rasa benci serta iri dalam diri.  Jika kita terus bertikai, mana mungkin pelayanan kita berdaya guna dan mencapai tujuan yang sesungguhnya, yaitu agar Injil tersebar dan banyak orang menjadi percaya?

          Oleh sebab itu, sebagai pelayan-pelayan Tuhan, sebagai umat Tuhan mari kita belajar memiliki kerendahan hati, bukan ke-egoisan diri.  Mari kita saling menerima segala kekurangan dan kelebihan sesama kita bukan saling benci dan iri. Mari kita saling mengasihi dan bukan saling menjatuhkan.

          Murid-murid Tuhan pernah gagal dalam hal ini.  Dan biarlah kegagalan mereka menjadi cerminan bagi kita untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.  Selama doa pagi kita melihat dan berusaha memperdalam bagian Kisah Para rasul, dan kita melihat sekalipun para rasul itu memiliki talenta dan Visi yang berbeda dari Tuhan, misalnya Paulus dipanggil menjadi penginjil bagi orang non-Yahudi sedangkan Petrus menjadi penginjil untuk orang-orang Yahudi, namun mereka tidak menjadi terpecah belah karena perbedaan itu, tapi saling melengkapi satu dengan yang lainnya. 

          Demikian juga seharusnya dengan kita.  Kita dipanggil Tuhan dengan berbagai karunia dan visi yang berbeda, namun tentu Tuhan tidak menginginkan terjadi perpecahan, tapi Tuhan mau kita menggunakan semuanya untuk memperkaya pelayanan dan saling melayani satu dengan yang lainnya untuk kemuliaan Tuhan. 

          Ada seorang anak kecil yang terlambat datang ke sekolah.  Lalu gurunya bertanya kepadanya, “Mengapa kamu terlambat?”  Anak itu menjawab, “Dijalan seorang bapak kehilangan uang logamnya.  Saya ingin menolongnya mencari uang itu.  Namun datang orang banyak, mereka juga bermaksud menolong bapak itu.  Semua berdiri mengelilingi saya, sehingga saya tidak dapat keluar.”
         
          Kemudian gurunya berkata lagi, “Mengapa kamu tidak minta permisi, supaya mereka memberi jalan keluar?” Anak itu menjawab, “Tidak, saya tidak dapat melakukannya, sebab saya berdiri di atas uang logam itu.”
          Apa makna yang kita dapat dari cerita itu.  Sdr, tidak dapat dipungkiri bahwa di gereja kita terdapat banyak masalah yang kelihatannya tidak habis-habisnya.  Kadang saya bertanya, mungkin sdr juga demikian, kenapa kok gereja selalu bermasalah? Setelah membaca cerita tadi saya mencoba mengambil maknanya demikian, seringkali kita menjadi si anak kecil tadi yang menginjak uang yang sedang dicari, kita tidak mau melepaskan diri dan menjauh dari uang itu, padahal itu adalah masalah.  Dengan kata lain, Maafkan terkadang kita lebih senang menyimpan masalah itu daripada menyelesaikannya.

          Para murid juga demikian, selama mereka masih berusaha untuk menonjolkan diri dan bersaing satu dengan yang lainnya, maka tidak pernah ada kemajuan dalam kerohanian dan pelayanan mereka.  Akan tetapi, ketika mereka saling merendahkan diri, dengan menerima satu dengan yang lain dan saling mengasihi, maka Tuhan memakai mereka secara luarbiasa.

          Demikian juga yang berlaku atas gereja kita.  Kita tidak akan pernah maju, kita tidak akan pernah dapat menjadi berkat, kita tidak akan pernah diberkati oleh Tuhan, jika di dalam gereja Tuhan ini tidak ada pertobatan untuk merendahkan dengan menerima satu dengan yang lain dan saling melayani.  Amin. 
        
       



  

         

         

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar